Suasana khidmat di lingkungan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Tarbiyatul Nurul Huda seketika berubah menjadi ajang pesta demokrasi yang meriah pada Kamis, 6 Agustus 2026 kemarin. Madrasah yang kental dengan nuansa pesantren tradisional ini sukses menyelenggarakan Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah dengan mengadopsi sistem Pemilihan Kepala Daerah secara langsung. Langkah inovatif ini diambil bukan sekadar sebagai agenda rutin tahunan untuk mengganti kepengurusan, melainkan sebagai wadah edukasi nyata yang mengintegrasikan nilai akademis dan pembentukan karakter kepemimpinan santri. Guna memastikan roda organisasi berjalan efektif sesuai tingkatan usia, pelaksanaan pesta demokrasi ini dibagi menjadi dua jenjang yang berbeda, yaitu jenjang tingkatan Madrasah Tsanawiyah dan tingkatan Madrasah Aliyah, di mana masing-masing jenjang memilih pasangan ketua dan wakil ketua OSIM tersendiri.

Berdasarkan esensi pengorganisasian di bawah Kementerian Agama, organisasi intra ini merupakan satu-satunya wadah resmi di madrasah untuk menghimpun ide, bakat, sekaligus menjembatani aspirasi seluruh siswa dengan pihak pengelola madrasah. Melalui pemilihan langsung yang jujur dan adil di kedua jenjang tersebut, kegiatan ini berfungsi sebagai laboratorium demokrasi dan miniatur pemilu sejak dini. Santri diajarkan untuk berpikir kritis, mengevaluasi program kerja kandidat, tidak menjadi generasi yang apatis, serta belajar bertanggung jawab penuh atas hak suara yang mereka miliki untuk masa depan madrasah tercinta.

Sistem pemilihan serentak dua jenjang ini juga menjadi bukti nyata bahwa nilai kebangsaan dan nilai agama dapat berjalan beriringan secara harmonis di lingkungan pesantren. Dari perspektif Pendidikan Pancasila, kegiatan ini merupakan implementasi langsung dari Sila Keempat yang memberikan ruang kebebasan berpendapat serta melatih siswa untuk bermusyawarah secara sehat. Di saat yang sama, proses pemungutan suara ini mengakar kuat pada asas Syura sebagaimana yang diajarkan dalam syariat Islam. Melalui prinsip ini, santri dari tingkat MTs maupun MA diajak untuk bertukar pikiran demi kemaslahatan bersama, menjaga etika persaudaraan atau ukhuwah islamiyah selama berkompetisi, serta menerima hasil mufakat akhir dengan lapang dada.

Kemiripan pesta demokrasi madrasah ini dengan Pilkada tercermin nyata dari ketatnya rangkaian proses yang harus dilalui oleh para kandidat di masing-masing tingkatan sejak awal. Proses dimulai dari tahap penjaringan dan pencalonan yang unik, di mana para pasangan calon yang maju di jenjang MTs maupun MA tidak dipilih acak melainkan didelegasikan langsung dari jajaran ketua murid beserta wakilnya di masing-masing kelas. Sebagai figur yang telah dipercaya memimpin ruang kelas, tanggung jawab, kedisiplinan, dan rekam jejak mereka telah teruji sebelum akhirnya divalidasi oleh panitia untuk melangkah ke tingkat pemilihan madrasah.

Setelah nomor urut ditetapkan bagi setiap paslon di kedua jenjang, para pasangan calon melangkah ke tahap penyampaian visi dan misi di atas podium di hadapan ratusan pasang mata santri serta dewan guru. Tahap adu gagasan ini kemudian berlanjut pada masa kampanye yang dinamis dan kreatif. Setiap tim sukses, baik dari tingkat MTs maupun MA, bergerak aktif mengenalkan calonnya mulai dari memasang atribut informasi, membuat konten kreatif di media sosial, hingga melakukan pendekatan langsung dari kelas ke kelas dan kamar-kamar kobong pondok untuk meraih dukungan secara persuasif dan sehat tanpa adanya paksaan.

Puncaknya pada hari pelaksanaan, panitia menyediakan Tempat Pemungutan Suara terpisah untuk jalur pemilih jenjang MTs dan jenjang MA agar proses pencoblosan tetap tertib. Lokasi pemilihan dilengkapi dengan bilik suara yang menjaga kerahasiaan, kotak suara bersegel untuk masing-masing tingkatan, hingga tinta celup sebagai bukti fisik setelah memilih. Ratusan santri beserta jajaran dewan guru mengantre rapi guna menyalurkan hak konstitusional mereka.

Melalui suksesnya gelaran serentak dua jenjang ini, Madrasah Tarbiyatul Nurul Huda membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi masa depan yang tidak hanya unggul dan kokoh dalam pemahaman ilmu agama, tetapi juga matang dalam bernegara, berorganisasi, serta menghidupkan nilai luhur demokrasi Pancasila. *** (admin)
